1. Tingkat-tingkat gula darah yang tinggi sekali disebabkan oleh suatu kekurangan insulin yang nyata atau suatu kekurangan yang relatif dari insulin.
2. Tingkat-tingkat gula darah yang abnormal rendah disebabkan oleh terlalu banyak insulin atau obat-obat penurun glukosa lainnya.
Insulin adalah penting untuk pasien-pasien dengan diabetes tipe 1 - mereka tidak dapat hidup tanpa suatu sumber dari exogenous insulin. Tanpa insulin, pasien-pasien dengan diabetes tipe 1 mengembangkan tingkat-tingkat gula darah yang meningkatnya sangat parah. Ini menjurus pada meningkatnya glukosa urin, yang pada gilirannya menjurus pada kehilangan berlebihan dari cairan dan elektrolit-elektrolit didalam urin. Kekurangan insulin juga menyebabkan ketidakmampuan untuk menyimpan lemak dan protein bersamaan dengan penguraian penyimpanan-penyimpanan lemak dan protein. Gangguan regulasi ini, berakibat pada proses dari ketosis dan pelepasan keton-keton kedalam darah. Keton-keton membuat darah menjadi asam (acidic), suatu kondisi yang disebut diabetic ketoacidosis (DKA). Gejala-gejala dari diabetic ketoacidosis termasuk mual, muntah, dan sakit perut. Tanpa perawatan medis yang segera, pasien-pasien dengan diabetic ketoacidosis dapat masuk dengan cepat kedalam keadaan shock, koma, dan bahkan kematian.
Diabetic ketoacidosis dapat disebabkan oleh infeksi-infeksi, stres, atau trauma dimana semuanya dapat meningkatan kebutuhan-kebutuhan insulin. Sebagai tambahan, dosis-dosis insulin yang hilang juga adalah suatu faktor risiko yang nyata untuk mengembangkan diabetic ketoacidosis. Perawatan darurat dari diabetic ketoacidosis melibatkan pemasukan cairan, elektrolit-elektrolit dan insulin secara intravenous (melalui urat nadi), biasanya di ICU suatu rumah sakit. Dehidrasi dapat sangat berat, dan adalah biasa untuk memerlukan mengganti 6-7 liter cairan ketika seseorang berada pada diabetic ketoacidosis. Antibiotik-antibiotik diberikan untuk infeksi-infeksi. Dengan perawatan, tingkat-tingkat gula darah abnormal, produksi keton, acidosis, dan dehidrasi dapat dibalikan dengan cepat, dan pasien-pasien dapat pulih dengan sungguh baik.
Pada pasien-pasien dengan diabetes tipe 2, stres, infeksi, dan obat-obatan (seperti corticosteroids) dapat juga menjurus pada tingkat-tingkat gula darah yang meningkatnya berat/tinggi. Didampingi oleh dehidrasi, peningkatan berat gula darah pada pasien-pasien diabetes tipe 2 dapat menjurus pada suatu peningkatan blood osmolality (hyperosmolar state). Kondisi ini dapat menjurus pada koma (hyperosmolar coma). Suatu hyperosmolar coma biasanya terjadi pada pasien-pasien yang lebih tua dengan diabetes tipe 2. Seperti diabetic ketoacidosis, suatu hyperosmolar coma adalah suatu keadaan medis darurat. Perawatan segera dengan cairan dan insulin intravenous adalah penting dalam membalikan keadaan hyperosmolar. Tidak seperti pasien-pasien diabetes tipe 1, pasien-pasien diabetes tipe 2 umumnya tidak mengembangkan ketoacidosis semata-mata berdasarkan diabetesnya. Karena pada umumnya diabetes tipe 2 terjadi pada populasi yang lebih tua, kondisi-kondisi medis serentak lebih mungkin ada, dan pasien-pasien ini secara keseluruhan kemungkinan lebih sakit. Komplikasi dan angka kematian dari hyperosmolar coma menjadi lebih tinggi dari pada DKA.
Hypoglycemia artinya gula darah yang abnormal rendah. Pada pasien-pasien diabetes, penyebab yang paling umum dari gula darah rendah adalah penggunaan insulin yang berlebihan atau obat-obat penurun gula lainnya, untuk menurunkan tingkat gula darah pada pasien-pasien diabetes pada kehadiran makanan yang telat atau ketidak hadiran makanan. Ketika tingkat-tingkat gula darah rendah terjadi karena terlalu banyak insulin, itu disebut suatu reaksi insulin. Kadangkala, gula darah rendah dapat sebagai akibat dari suatu pemasukan kalori yang tidak mencukupi atau pengerahan tenaga fisik berlebihan secara mendadak.
Glukosa darah adalah penting untuk sel-sel otak berfungsi secara baik. Oleh karenanya, gula darah rendah dapat menjurus pada gejala-gejala sistim syaraf pusat seperti kepeningan, kebingungan, kelemahan, dan gemetaran. Tingkat aktual gula darah dimana gejala-gejala ini terjadi berbede-beda dengan setiap orang, namun biasanya itu terjadi ketika gula darah kurang dari 65 mg/dl. Tidak dirawat, tingkat-tingkat gula darah rendah yang berat dapat menjurus pada koma, seizures, dan pada skenario yang paling jelek, kematian otak yang tidak dapat dibalikan. Pada titik ini, otak menderita dari suatu kekurangan gula, dan ini umumnya terjadi pada tingkat-tingkat sekitar kurang dari 40 mg/dl.
Perawatan gula darah rendah terdiri dari pemasukan suatu sumber gula yang cepat diserap. Ini termasuk minuman-minuman yang mengandung gula, seperti air jeruk, minuman-minuman ringan/soft drinks (bukan yang bebas gula), atau tablet-tablet gula dalam dosis-dosis 15-20 grams sekali makan (contohnya, persamaan dari setengah gelas jus). Jika pasien menjadi tidak sadar, glukagon dapat diberikan melalui suntikan intramuskular (intramuscular injection).
Glukagon menyebabkan pelepasan gula (glukosa) dari hati/liver (itu mempromosikan gluconeogenesis). Glukagon dapat menyelamatkan nyawa and setiap pasien diabetes yang mempunyai suatu sejarah hypoglycemia (terutama yang memerlukan insulin) harus mempunyai suatu kotak glukagon (glucagon kit). Famili-famili dan teman-teman dari orang-orang dengan diabetes perlu diajari bagaimana memasukkan glukagon, karena jelas-jelas pasien-pasien tidak akan mampu melakukannya sendiri dalam suatu situasi darurat. Alat penyelamat nyawa lainnya yang perlu dibahas adalah sangat sederhana; suatu gelang siaga medis harus dipakai oleh semua pasien-pasien diabetes.
Jumat, 06 Mei 2011
Test Gula Darah
Tes gula darah dirumah adalah suatu bagian yang penting dari pengawasan gula darah. Satu tujuan penting dari perawatan diabetes adalah menjaga tingkat-tingkat glukosa darah mendekati batasan normal dari 70 ke 120 mg/dl sebelum makan dan dibawah 140 mg/dl pada saat 2 jam setelah makan. Tingkat-tingkat glukosa darah umumnya diuji sebelum dan sesudah makan, dan pada waktu tidur. Tingkat gula darah secara khas ditentukan oleh suatu tusukan pada ujung jari dengan suatu alat pembuka dan menaruh darah itu pada suatu alat ukur glukosa yang membaca nilainya. Ada begitu banyak alat ukur di pasar, contohnya, Accu-Check Advantage, One Touch Ultra, Sure Step dan Freestyle. Setiap alat ukur mempunyai keuntungan-keuntungannya dan kerugian-kerugiannya sendiri (beberapa menggunakan lebih sedikit darah, beberapa mempunyai suatu pembacaan digital yang lebih besar, beberapa memakan waktu yang singkat untuk memberikan hasilnya pada anda, dan seterusnya). Hasil-hasil kemudian digunakan untuk membantu pasien-pasien membuat penyesuaian pada obat-obat, makanan-makanan, dan aktivitas-aktivitas fisik.
Ada beberapa perkembangan yang menarik dari pengawasan glukosa darah. Sekarang ini, paling sedikit tiga sensor-sensor glukosa yang berlanjut sedang dipertimbangkan untuk persetujuan di Amerika (Dexcom, Medtronic dan Navigator). Sistim-sistim sensor glukosa berlanjut yang baru ini melibatkan suatu cannula yang dapat ditanam dibawah kulit perut atau lengan. Cannula ini mengizinkan pengambilan yang sering dari tingkat-tingkat glukosa darah. Disambung pada ini adalah suatu transmitter yang mengirimkan data pada suatu alat yang mirip pager. Alat ini mempunyai suatu layar visual yang mengizinkan pembawanya melihat, tidak hanya pembacaan glukosa waktu ini, namun juga arah-arah dari grafisnya. Pada beberapa alat-alat, angka dari perubahan gula darah juga ditunjukkan. Ada alarm-alarm untuk tingkat-tingkat gula yang rendah dan yang tinggi. Model-model tertentu akan memperingati jika angka perubahan mengindikasikan pembawanya berada pada risiko kenaikan dan penurunan gula darah yang terlalu cepat. Versi Medtronic dirancang khusus untuk berhubungan dengan pompa-pompa insulinnya. Bagaimanapun, pada saat ini pasien masih harus menyetujui secara manual dosis insulin apa saja (pompa itu tidak dapat secara membabibuta merespon pada informasi glukosa yang dia terima, dia hanya dapat memberikan suatu anjuran yang diperhitungkan apakah pembawanya harus memberikan insulin, dan jika ya, berapa banyak). Semua dari alat-alat ini perlu dihubungkan denga penusukan jari untuk beberapa jam sebelum mereka dapat berfungsi dengan bebas. Kemudian alat-alat ini dapat menyediakan pembacaan untuk 3-5 hari.
Ahli-ahli diabetes merasa bahwa alat-alat monitor glukosa darah ini memberikan pada pasien-pasien suatu jumlah kebebasan yang signifikan untuk mengatur proses-proses penyakit mereka; dan mereka juga adalah suatu alat yang hebat untuk pendidikan. Adalah juga sangat penting untuk mengingat bahwa alat-alat ini dapat digunakan dengan sebentar-sebentar dengan tusukan-tusukan jari. Contohnya, seorang pasien diabetes yang terkontrol dengan baik dapat percaya pada ujian-ujian glukosa dengan tusukan jari beberapa kali dalam sehari. Jika mereka jatuh sakit, jika mereka memutuskan memulai suatu cara latihan yang baru, jika mereka merubah makanan mereka dan seterusnya, mereka dapat menggunakan sensor untuk melengkapi cara tusukan jari mereka, menyediakan lebih banyak informasi pada bagaimana mereka merespon pada perubahan-perubahan gaya hidup baru atau penyebab-penyebab stres. Macam sistim ini membawa kita satu langkah lebih dekat untuk menutup putaran, dan pada pengembangan dari suatu pankreas tiruan yang merasakan keperluan-keperluan berdasarkan pada tingkat-tingkat glukosa dan keperluan tubuh dan pelepasan insulin yang sesuai dengan itu - tujuan akhir.
Hemoglobin A1c (A1c)
Untuk menerangkan apa itu suatu A1c, berpikirlah dalam istilah-istilah yang sederhana. Gula menempel/melekat, dan jika ini telah terjadi untuk suatu waktu yang lama, adalah lebih sulit untuk menghilangkannya. Didalam tubuh, gula juga menempel/melekat, terurama pada protein-protein. Sel-sel darah merah yang bersirkulasi didalam tubuh hidup untuk kira-kira tiga bulan sebelum mereka mati. Ketika gula menempel pada sel-sel ini, itu memberikan kepada kita suatu idea/gagasan berapa banyak gula ada pada tiga bulan yang lalu. Pada kebanyakan labor-labor, batasan normal adalah 4-5.9 %. Pada diabetes yang terkontrol dengan kurang baik, angkanya adalah 8.0% atau lebih, dan pada pasien-pasien yang terkontrol baik adalah kurang dari 7.0% (optimal adalah kurang dari 6.5%). Keuntungan-keuntungan dari pengukuran A1c adalah bahwa ia memberikan suatu pandangan yang lebih layak dan stabil dari apa yang terjadi pada tiga bulan yang lalu, dan nilainya tidak memantul sebanyak pengukuran-pengukuran gula darah dengan tusukan jari. Ada suatu hubungan langsung antara tingkat-tingkat A1c dan tingkat-tingkat gula darah rata-rata seperti berikut.
Ketika tidak ada petunjuk-petunjuk untuk menggunakan A1c sebagai suatu alat penyaringan, itu memberikan pada seorang dokter suatu gagasan yang baik bahwa seseorang adalah diabetik jika nilanya meningkat. Untuk sekarang, itu digunakan sebagai suatu alat standar untuk menentukan kontrol gula darah pada pasien-pasien yang diketahui mempunyai diabetes.
The American Diabetes Association sekarang merekomendasikan suatu tujuan A1c yang kurang dari 7.0%. Grup-grup lain seperti the American Association of Clinical Endocrinologists merasa bahwa suatu A1c yang kurang dari 6.5% harus menjadi tujuan.
Yang menarik, studi-studi telah menunjukan bahwa ada suatu pengurangan kira-kira 10% pada risiko relatif dari penyakit mikrovaskuler untuk setiap reduksi sebesar 1 % pada A1c. Jadi, jika seorang pasien mulai denga suatu A1c dari 10.7 dan turun ke 8.2, walaupun masih belum pada tujuan, mereka telah mengelola untuk menurunkan risiko komolikasi-komplikasi mikrovaskuler mereka sekitar 20%. Lebih dekat A1c pada normal, lebih rendah risiko absolut dari komplikasi-komplikasi mikrovaskuler. Data juga menyarankan bahwa risiko penyakit mikrovaskuler berkurang kira-kira 24% untuk setiap pengurangan nilai-nilai A1c sebesar 1%.
Perlu disebutkan disini bahwa ada sejumlah kondisi-kondisi dimana suatu nilai A1c mungkin tidak akurat. Contohnya, dengan anemia yang signifikan, jumlah sel darah merah rendah, jadi dengan demikian A1c secara salah dianggap rendah sama seperti pada kasus-kasus dari penyakit sel sabit dan hemoglobinopathies lainnya.
Ada beberapa perkembangan yang menarik dari pengawasan glukosa darah. Sekarang ini, paling sedikit tiga sensor-sensor glukosa yang berlanjut sedang dipertimbangkan untuk persetujuan di Amerika (Dexcom, Medtronic dan Navigator). Sistim-sistim sensor glukosa berlanjut yang baru ini melibatkan suatu cannula yang dapat ditanam dibawah kulit perut atau lengan. Cannula ini mengizinkan pengambilan yang sering dari tingkat-tingkat glukosa darah. Disambung pada ini adalah suatu transmitter yang mengirimkan data pada suatu alat yang mirip pager. Alat ini mempunyai suatu layar visual yang mengizinkan pembawanya melihat, tidak hanya pembacaan glukosa waktu ini, namun juga arah-arah dari grafisnya. Pada beberapa alat-alat, angka dari perubahan gula darah juga ditunjukkan. Ada alarm-alarm untuk tingkat-tingkat gula yang rendah dan yang tinggi. Model-model tertentu akan memperingati jika angka perubahan mengindikasikan pembawanya berada pada risiko kenaikan dan penurunan gula darah yang terlalu cepat. Versi Medtronic dirancang khusus untuk berhubungan dengan pompa-pompa insulinnya. Bagaimanapun, pada saat ini pasien masih harus menyetujui secara manual dosis insulin apa saja (pompa itu tidak dapat secara membabibuta merespon pada informasi glukosa yang dia terima, dia hanya dapat memberikan suatu anjuran yang diperhitungkan apakah pembawanya harus memberikan insulin, dan jika ya, berapa banyak). Semua dari alat-alat ini perlu dihubungkan denga penusukan jari untuk beberapa jam sebelum mereka dapat berfungsi dengan bebas. Kemudian alat-alat ini dapat menyediakan pembacaan untuk 3-5 hari.
Ahli-ahli diabetes merasa bahwa alat-alat monitor glukosa darah ini memberikan pada pasien-pasien suatu jumlah kebebasan yang signifikan untuk mengatur proses-proses penyakit mereka; dan mereka juga adalah suatu alat yang hebat untuk pendidikan. Adalah juga sangat penting untuk mengingat bahwa alat-alat ini dapat digunakan dengan sebentar-sebentar dengan tusukan-tusukan jari. Contohnya, seorang pasien diabetes yang terkontrol dengan baik dapat percaya pada ujian-ujian glukosa dengan tusukan jari beberapa kali dalam sehari. Jika mereka jatuh sakit, jika mereka memutuskan memulai suatu cara latihan yang baru, jika mereka merubah makanan mereka dan seterusnya, mereka dapat menggunakan sensor untuk melengkapi cara tusukan jari mereka, menyediakan lebih banyak informasi pada bagaimana mereka merespon pada perubahan-perubahan gaya hidup baru atau penyebab-penyebab stres. Macam sistim ini membawa kita satu langkah lebih dekat untuk menutup putaran, dan pada pengembangan dari suatu pankreas tiruan yang merasakan keperluan-keperluan berdasarkan pada tingkat-tingkat glukosa dan keperluan tubuh dan pelepasan insulin yang sesuai dengan itu - tujuan akhir.
Hemoglobin A1c (A1c)
Untuk menerangkan apa itu suatu A1c, berpikirlah dalam istilah-istilah yang sederhana. Gula menempel/melekat, dan jika ini telah terjadi untuk suatu waktu yang lama, adalah lebih sulit untuk menghilangkannya. Didalam tubuh, gula juga menempel/melekat, terurama pada protein-protein. Sel-sel darah merah yang bersirkulasi didalam tubuh hidup untuk kira-kira tiga bulan sebelum mereka mati. Ketika gula menempel pada sel-sel ini, itu memberikan kepada kita suatu idea/gagasan berapa banyak gula ada pada tiga bulan yang lalu. Pada kebanyakan labor-labor, batasan normal adalah 4-5.9 %. Pada diabetes yang terkontrol dengan kurang baik, angkanya adalah 8.0% atau lebih, dan pada pasien-pasien yang terkontrol baik adalah kurang dari 7.0% (optimal adalah kurang dari 6.5%). Keuntungan-keuntungan dari pengukuran A1c adalah bahwa ia memberikan suatu pandangan yang lebih layak dan stabil dari apa yang terjadi pada tiga bulan yang lalu, dan nilainya tidak memantul sebanyak pengukuran-pengukuran gula darah dengan tusukan jari. Ada suatu hubungan langsung antara tingkat-tingkat A1c dan tingkat-tingkat gula darah rata-rata seperti berikut.
Ketika tidak ada petunjuk-petunjuk untuk menggunakan A1c sebagai suatu alat penyaringan, itu memberikan pada seorang dokter suatu gagasan yang baik bahwa seseorang adalah diabetik jika nilanya meningkat. Untuk sekarang, itu digunakan sebagai suatu alat standar untuk menentukan kontrol gula darah pada pasien-pasien yang diketahui mempunyai diabetes.
The American Diabetes Association sekarang merekomendasikan suatu tujuan A1c yang kurang dari 7.0%. Grup-grup lain seperti the American Association of Clinical Endocrinologists merasa bahwa suatu A1c yang kurang dari 6.5% harus menjadi tujuan.
Yang menarik, studi-studi telah menunjukan bahwa ada suatu pengurangan kira-kira 10% pada risiko relatif dari penyakit mikrovaskuler untuk setiap reduksi sebesar 1 % pada A1c. Jadi, jika seorang pasien mulai denga suatu A1c dari 10.7 dan turun ke 8.2, walaupun masih belum pada tujuan, mereka telah mengelola untuk menurunkan risiko komolikasi-komplikasi mikrovaskuler mereka sekitar 20%. Lebih dekat A1c pada normal, lebih rendah risiko absolut dari komplikasi-komplikasi mikrovaskuler. Data juga menyarankan bahwa risiko penyakit mikrovaskuler berkurang kira-kira 24% untuk setiap pengurangan nilai-nilai A1c sebesar 1%.
Perlu disebutkan disini bahwa ada sejumlah kondisi-kondisi dimana suatu nilai A1c mungkin tidak akurat. Contohnya, dengan anemia yang signifikan, jumlah sel darah merah rendah, jadi dengan demikian A1c secara salah dianggap rendah sama seperti pada kasus-kasus dari penyakit sel sabit dan hemoglobinopathies lainnya.
Gejala-Gejala Diabetes
Gejala-Gejala Kencing Manis
Gejala-gejala awal dari kencing manis yang tidak dirawat dihubungkan dengan kenaikkan tingkat-tingkat gula darah, dan kehilangan glukosa kedalam urin. Jumlah-jumlah yang tinggi dari glukosa didalam urin dapat menyebabkan peningkatan pengeluaran urin dan menjurus pada dehidrasi. Dehidrasi menyebabkan peningkatan kehausan dan konsumsi air. Ketidakmampuan insulin untuk bekerja secara normal mempunyai pengaruh pada metabolisme protein, lemak dan karbohidrat. Insulin adalah suatu hormon anabolik (anabolic hormone), yaitu satu yang mendorong penyimpanan lemak dan protein. Suatu kekurangan insulin yang relatif atau mutlak akhirnya menjurus pada kehilangan berat badan meskipun dengan suatu nafsu makan yang meningkat. Beberapa pasien-pasien kencing manis yang tidak dirawat juga mengeluh kelelahan, mual dan muntah. Pasien-pasien dengan diabetis adalah rentan untuk mengembangkan infeksi-infeksi kandung kemih (bladder), kulit, dan area-area vagina. Fluktuasi-fluktuasi pada tingkat-tingkat glukosa darah dapat menjurus pada penglihatan yang kabur. Peningkatan tingkat-tingkat glukosa yang ekstrim dapat menjurus pada kelesuan dan koma.
Mendiagnosis Kencing Manis
Tes gula darah puasa adalah cara yang lebih disukai untuk mendiagnosis diabetis. Itu mudah dan tidak menyusahkan untuk mengerjakannya. Setelah seseorang telah puasa malam sebelumnya (paling sedikit 8 jam), suatu sampel darah diambil dan dikirim ke labor untuk anaisa. Ini juga dapat dilaksanakan secara akurat di tempat praktek dokter menggunakan suatu alat glucose meter.
Tingkat-tingkat normal dari glukosa puasa adalah kurang dari 100 milligrams per deciliter (mg/dl). Tingkat-tingkat plasma glukosa yang lebih dari 126 mg/dl pada dua atau lebih tes-tes pada hari yang berbeda mengindikasikan diabetis. Suatu tes glukosa darah secara acak dapat juga digunakan untuk mendiagnosis diabetis. Suatu tingkat glukosa darah dari 200 mg/dl atau lebih mengindikasikan diabetis.
Ketika puasa glukosa darah berdiam diatas 100mg/dl, namun dalam batasan dari 100-126mg/dl, ini diketahui sebagai glukosa puasa yang terganggu [impaired fasting glucose (IFG)]. Ketika pasien-pasien dengan IFG tidak mempunyai diagnosis dari diabetes, kondisi ini membawanya dengan risiko-risiko dan kekhwatiran-kekhwatirannya sendiri, dan dialamatkan ditempat lain.
Tes-tes toleransi glukosa secara oral
Walaupun tidak digunakan lagi secara rutin, tes toleransi glukosa secara oral [oral glucose tolerance test (OGTT)] adalah standar emas untuk membuat diagnosis dari diabetis tipe 2. Ia masih umum digunakan untuk mendiagnosis gestational diabetes. Dengan tes toleransi glukosa oral, seseorang berpuasa semalam (paling sedikit 8 tapi tidak lebih dari 16 jam). Kemudian pertama-tama, plasma glukosa puasa diuji. Setelah tes ini, orang ini menerima 75 gram glukosa (100 gram untuk wanita hamil). Ada beberapa metode-metode yang dilaksanakan oleh dokter kandungan untuk melakukan tes ini, namun satu yang dibahas disini adalah yang standar. Biasanya, glukosanya adalah suatu cairan yang manis yang diminum oleh orang itu. Contoh-contoh darah diambil pada inteval-interval yang spesifik untuk mengukur glukosa darah.
Supaya tesnya memberikan hasil-hasil yang dapat dipercaya, orang itu harus berada dalam kesehatan yang baik (tidak mempunyai sakit lain apa saja, bahkan tidak juga suatu selesma). Juga, orang itu harus aktif secara normal (tidak berbaringan, contohnya, sebagai seorang pasien dirumah sakit) dan juga harus tidak meminum obat-obat yang dapat mempengaruhi glukosa darah. Untuk tiga hari sebelum tes, orang itu harus makan suatu makanan yang kaya karbohidratnya (150- 200 gram per hari). Pagi hari waktu tes, orang itu harus tidak merokok atau minum kopi.
Tes toleransi glukosa oral yang klasik mengukur tingkat-tingkat glukosa darah sebanyak lima kali pada suatu periode dari 3 jam. Beberapa dokter hanya mendapat suatu contoh darah garis dasar diikuti oleh suatu contoh dua jam setelah meminum larutan glukosa. Pada seseorang tanpa diabetis, tingkat-tingkat glukosa naik dan turun dengan cepat. Pada seseorang dengan diabetes, tingkat-tingkat glukosa naik lebih tinggi dari normal dan gagal untuk turun dengan cepat.
Orang-orang dengan tingkat-tingkat glukosa antara normal dan diabetik mempunyai toleransi glukosa yang terganggu [impaired glucose tolerance (IGT)]. Orang-orang dengan toleransi glukosa terganggu tidak mempunyai diabetes, namun berada pada risiko tinggi untuk menuju ke kencing manis. Setiap tahun, 1-5% dari orang-orang yang hasil-hasil tesnya menunjukan toleransi glukosa terganggu benar-benar akhirnya mengembangkan kencing manis. Menurunkan berat badan dan berolahraga dapat membantu orang-orang dengan gangguan toleransi glukosa mengembalikan tingkat-tingkat glukosanya ke normal. Sebagai tambahan, beberapa dokter menganjurkan penggunaan obat-obatan, seperti metformin (Glucophage), untuk membantu mencegah/memperlambat timbulnya diabetis yang nyata. Studi-studi terakhir telah menunjukan bahwa toleransi glukosa yang terganggu sendiri mungkin dapat merupkan suatu faktor risiko untuk pengembangan penyakit jantung. Pada komunitas medis, kebanyakan dokter-dokter sekarang mengerti bahwa gangguan toleransi glukosa adalah bukan hanya suatu pendahuluan dari diabetis, namun adalah kesatuan penyakit klinis tersendiri yang memerlukan perawatan dan pengamatan.
Mengevaluasi hasil-hasil tes toleransi glukosa secara oral
Tes-tes toleransi glukosa dapat menjurus pada satu dari diagnosa-diagnosa berikut:
• Respon normal : Seseorang dikatakan mempunyai respon normal jika tingkat glukosa 2 jamnya kurang dari 140 mg/dl, dan seluruh nilai-nilainya antara 0 dan 2 jam kurang dari 200 mg/dl.
• Toleransi glukosa yang terganggu: Seseorang dikatakan mempunyai toleransi glukosa yang terganggu jika plasma glukosa puasa kurang dari 126 mg/dl dan tingkat tingkat glukosa 2 jamnya ada diantara 140 dan 199 mg/dl.
• Diabetis: Seseorang mempunyai diabetis jika dua tes-tes diagnostik dilaksanakan pada hari yang berbeda menunjukan tingkat glukosa darah yang tinggi.
• Gestational diabetes: Seorang wanita mempunyai gestational diabetes jika ia mempunyai dua apa saja dari yang berikut: suatu 100g OGTT, suatu plasma glukosa puasa lebih dari 95 mg/dl, suatu tingkat glukosa 1 jam lebih dari 180 mg/dl, suatu tingkat glukosa 2 jam lebih dari 155 mg/dl, atau suatu tingkat glukosa 3 jam lebih dari 140 mg/dl.
Gejala-gejala awal dari kencing manis yang tidak dirawat dihubungkan dengan kenaikkan tingkat-tingkat gula darah, dan kehilangan glukosa kedalam urin. Jumlah-jumlah yang tinggi dari glukosa didalam urin dapat menyebabkan peningkatan pengeluaran urin dan menjurus pada dehidrasi. Dehidrasi menyebabkan peningkatan kehausan dan konsumsi air. Ketidakmampuan insulin untuk bekerja secara normal mempunyai pengaruh pada metabolisme protein, lemak dan karbohidrat. Insulin adalah suatu hormon anabolik (anabolic hormone), yaitu satu yang mendorong penyimpanan lemak dan protein. Suatu kekurangan insulin yang relatif atau mutlak akhirnya menjurus pada kehilangan berat badan meskipun dengan suatu nafsu makan yang meningkat. Beberapa pasien-pasien kencing manis yang tidak dirawat juga mengeluh kelelahan, mual dan muntah. Pasien-pasien dengan diabetis adalah rentan untuk mengembangkan infeksi-infeksi kandung kemih (bladder), kulit, dan area-area vagina. Fluktuasi-fluktuasi pada tingkat-tingkat glukosa darah dapat menjurus pada penglihatan yang kabur. Peningkatan tingkat-tingkat glukosa yang ekstrim dapat menjurus pada kelesuan dan koma.
Mendiagnosis Kencing Manis
Tes gula darah puasa adalah cara yang lebih disukai untuk mendiagnosis diabetis. Itu mudah dan tidak menyusahkan untuk mengerjakannya. Setelah seseorang telah puasa malam sebelumnya (paling sedikit 8 jam), suatu sampel darah diambil dan dikirim ke labor untuk anaisa. Ini juga dapat dilaksanakan secara akurat di tempat praktek dokter menggunakan suatu alat glucose meter.
Tingkat-tingkat normal dari glukosa puasa adalah kurang dari 100 milligrams per deciliter (mg/dl). Tingkat-tingkat plasma glukosa yang lebih dari 126 mg/dl pada dua atau lebih tes-tes pada hari yang berbeda mengindikasikan diabetis. Suatu tes glukosa darah secara acak dapat juga digunakan untuk mendiagnosis diabetis. Suatu tingkat glukosa darah dari 200 mg/dl atau lebih mengindikasikan diabetis.
Ketika puasa glukosa darah berdiam diatas 100mg/dl, namun dalam batasan dari 100-126mg/dl, ini diketahui sebagai glukosa puasa yang terganggu [impaired fasting glucose (IFG)]. Ketika pasien-pasien dengan IFG tidak mempunyai diagnosis dari diabetes, kondisi ini membawanya dengan risiko-risiko dan kekhwatiran-kekhwatirannya sendiri, dan dialamatkan ditempat lain.
Tes-tes toleransi glukosa secara oral
Walaupun tidak digunakan lagi secara rutin, tes toleransi glukosa secara oral [oral glucose tolerance test (OGTT)] adalah standar emas untuk membuat diagnosis dari diabetis tipe 2. Ia masih umum digunakan untuk mendiagnosis gestational diabetes. Dengan tes toleransi glukosa oral, seseorang berpuasa semalam (paling sedikit 8 tapi tidak lebih dari 16 jam). Kemudian pertama-tama, plasma glukosa puasa diuji. Setelah tes ini, orang ini menerima 75 gram glukosa (100 gram untuk wanita hamil). Ada beberapa metode-metode yang dilaksanakan oleh dokter kandungan untuk melakukan tes ini, namun satu yang dibahas disini adalah yang standar. Biasanya, glukosanya adalah suatu cairan yang manis yang diminum oleh orang itu. Contoh-contoh darah diambil pada inteval-interval yang spesifik untuk mengukur glukosa darah.
Supaya tesnya memberikan hasil-hasil yang dapat dipercaya, orang itu harus berada dalam kesehatan yang baik (tidak mempunyai sakit lain apa saja, bahkan tidak juga suatu selesma). Juga, orang itu harus aktif secara normal (tidak berbaringan, contohnya, sebagai seorang pasien dirumah sakit) dan juga harus tidak meminum obat-obat yang dapat mempengaruhi glukosa darah. Untuk tiga hari sebelum tes, orang itu harus makan suatu makanan yang kaya karbohidratnya (150- 200 gram per hari). Pagi hari waktu tes, orang itu harus tidak merokok atau minum kopi.
Tes toleransi glukosa oral yang klasik mengukur tingkat-tingkat glukosa darah sebanyak lima kali pada suatu periode dari 3 jam. Beberapa dokter hanya mendapat suatu contoh darah garis dasar diikuti oleh suatu contoh dua jam setelah meminum larutan glukosa. Pada seseorang tanpa diabetis, tingkat-tingkat glukosa naik dan turun dengan cepat. Pada seseorang dengan diabetes, tingkat-tingkat glukosa naik lebih tinggi dari normal dan gagal untuk turun dengan cepat.
Orang-orang dengan tingkat-tingkat glukosa antara normal dan diabetik mempunyai toleransi glukosa yang terganggu [impaired glucose tolerance (IGT)]. Orang-orang dengan toleransi glukosa terganggu tidak mempunyai diabetes, namun berada pada risiko tinggi untuk menuju ke kencing manis. Setiap tahun, 1-5% dari orang-orang yang hasil-hasil tesnya menunjukan toleransi glukosa terganggu benar-benar akhirnya mengembangkan kencing manis. Menurunkan berat badan dan berolahraga dapat membantu orang-orang dengan gangguan toleransi glukosa mengembalikan tingkat-tingkat glukosanya ke normal. Sebagai tambahan, beberapa dokter menganjurkan penggunaan obat-obatan, seperti metformin (Glucophage), untuk membantu mencegah/memperlambat timbulnya diabetis yang nyata. Studi-studi terakhir telah menunjukan bahwa toleransi glukosa yang terganggu sendiri mungkin dapat merupkan suatu faktor risiko untuk pengembangan penyakit jantung. Pada komunitas medis, kebanyakan dokter-dokter sekarang mengerti bahwa gangguan toleransi glukosa adalah bukan hanya suatu pendahuluan dari diabetis, namun adalah kesatuan penyakit klinis tersendiri yang memerlukan perawatan dan pengamatan.
Mengevaluasi hasil-hasil tes toleransi glukosa secara oral
Tes-tes toleransi glukosa dapat menjurus pada satu dari diagnosa-diagnosa berikut:
• Respon normal : Seseorang dikatakan mempunyai respon normal jika tingkat glukosa 2 jamnya kurang dari 140 mg/dl, dan seluruh nilai-nilainya antara 0 dan 2 jam kurang dari 200 mg/dl.
• Toleransi glukosa yang terganggu: Seseorang dikatakan mempunyai toleransi glukosa yang terganggu jika plasma glukosa puasa kurang dari 126 mg/dl dan tingkat tingkat glukosa 2 jamnya ada diantara 140 dan 199 mg/dl.
• Diabetis: Seseorang mempunyai diabetis jika dua tes-tes diagnostik dilaksanakan pada hari yang berbeda menunjukan tingkat glukosa darah yang tinggi.
• Gestational diabetes: Seorang wanita mempunyai gestational diabetes jika ia mempunyai dua apa saja dari yang berikut: suatu 100g OGTT, suatu plasma glukosa puasa lebih dari 95 mg/dl, suatu tingkat glukosa 1 jam lebih dari 180 mg/dl, suatu tingkat glukosa 2 jam lebih dari 155 mg/dl, atau suatu tingkat glukosa 3 jam lebih dari 140 mg/dl.
Kamis, 05 Mei 2011
Tipe-Tipe Diabetes
Ada dua tipe-tipe utama dari diabetis, disebut tipe 1 dan tipe 2. Diabetis tipe 1 juga disebut diabetes mellitus yang tergantung insulin [insulin dependent diabetes mellitus (IDDM)], atau diabetes mellitus yang menyerang anak-anak. Pada diabetis tipe 1, pankreas mengalami suatu serangan autoimun oleh tubuhnya sendiri, dan dibuat tidak mampu membuat insulin. Kelainan-kelainan antibodi-antibodi telah ditemukan pada mayoritas pasien-pasien dengan diabetis tipe 1. Antibodi-antibodi adalah protein-protein didalam darah yang merupakan bagian dari sistim imun tubuh. Pasien dengan diabetis tipe 1 harus tergantung dari obat-obatan insulin untuk kelangsungan hidup.
Pada penyakit-penyakit autoimun, seperti diabetis tipe 1, sistim imun secara keliru membuat antibodi-antibodi dan sel-sel peradangan yang diarahkan melawan dan menyebabkan kerusakan pada jaringan-jaringan tubuh pasien sendiri. Pada pasien dengan diabetis tipe 1, sel-sel beta dari pankreas yang bertanggung jawab pada produksi insulin, diserang oleh sistim imun yang salah diarahkan. Dipercayai bahwa kecenderungan mengembangkan antibodi-antibodi abnormal pada diabetis tipe 1 adalah sebagian diwariskan secara genetik, walaupun detil-detilnya tidak sepenuhnya dimengerti. Ekspose pada infeksi-infeksi virus tertentu (virus-virus mumps dan Coxsackie) atau racun-racun lingkungan lainnya dapat menyajikan untuk memicu respon-respon antibodi yang abnormal yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel pankreas dimana insulin dibuat. Antibodi-antibodi ini dapat diukur pada mayoritas pasien-pasien, dan mungkin dapat membantu menentukan individu-individu yang mana saja berada pada risiko mengembangkan diabetis tipe 1.
Pada saat ini, American Diabetes Association tidak merekomendasikan penyaringan secara umum populasi untuk diabetis tipe 1, meskipun penyaringan dari individu-individu yang berisiko tinggi, seperti yang dengan suatu family generasi pertama (suadara kandung atau orang tua) dengan diabetis tipe 1 seharusnya dianjurkan. Diabetis tipe 1 cenderung terjadi pada individu-individu yang muda dan kurus, umumnya sebelum berumur 30 tahun, bagaimanapun, pasien-pasien yang lebih tua kadangkala juga menunjukan bentuk diabetis ini. Sub-sub kelompok ini dirujuk sebagai diabetis autoimun tersembunyi pada orang dewasa [latent autoimmun disease in adults (LADA)]. LADA adalah suatu bentuk yang lambat dan progresif dari diabetis tipe 1. Dari semua pasien-pasien diabetis, hanya kurang lebih 10% dari pasien-pasien mempunyai diabetis tipe 1 dan sisanya 90% mempunyai diabetis tipe 2.
Diabetis tipe 2 juga dirujuk sebagai diabetes mellitus yang tidak tergantung insulin [non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM)], atau diabetes mellitus yang menyerang orang dewasa [adult onset diabetes mellitus (AODM)]. Pada diabetis tipe 2, pasien-pasien tetap masih dapat memproduksi insulin, namun relatif tidak memcukupi untuk kebutuhan-kebutuhan tubuhnya, terutama menghadapi resisten insulin seperti yang didiskusikan diatas. Pada banyak kasus-kasus, ini sesungguhnya berarti pankreas memproduksi jumlah insulin yang lebih besar dari normalnya. Suatu sifat utama dari diabetis tipe 2 adalah suatu kekurangan kepekaan sel-sel tubuh pada insulin (terutama sel-sel lemak dan otot). Sebagai tambahan pada persoalan dengan suatu peningkatan resistensi insulin, pelepasan insulin oleh pankreas dapat juga rusak dan suboptimal. Kenyataannya, ada suatu penurunan yang tetap dan diketahui pada produksi insulin dari sel-sel beta pada diabetis tipe 2 yang berkontribusi pada pemburukkan pengontrolan glukosa. (Ini adalah suatu faktor utama untuk banyak pasien-pasien dengan diabetis tipe 2 yang pada akhirnya memerlukan terapi insulin). Akhirnya, hati pada pasien-pasien ini terus berlanjut memproduksi glukosa melalui suatu proses yang disebut gluconeogenesis meskipun dengan tingkat-tingkat glukosa yang tinggi. Kontrol dari gluconeogenesis menjadi bersepakat.
Ketika dinyatakan bahwa diabetis tipe 2 kebanyakan terjadi pada individu-individu lebih dari umur 30 tahun dan timbulnya meningkat dengan umur, kita melihat suatu angka yang mengkhwatirkan dari pasien-paseien dengan diabetis tipe 2 yang belum mencapai umur 10 tahun. Faktanya, untuk pertama kali dalam sejarah kemanusiaan, diabetis tipe 2 sekarang lebih umum dari pada diabetis tipe 1 pada masa kanak-kanak. Kebanyakan dari kasus-kasus ini adalah suatu akibat langsung dari kebiasaan makan yang buruk, berat badan yang lebih berat, dan kurangnya berolahraga.
Ketika ada suatu komponen genetik yang kuat untuk mengembangkan bentuk diabetis ini, ada faktor-faktor risiko lainnya - yang paling signifikan darinya adalah kegemukan (obesity). Ada suatu hubungan langsung antara derajat kegemukan dan risiko pengembangan diabetes tipe 2 , dan ini benar baik pada anak-anak maupun orang-orang dewasa. Diperkirakan bahwa kesempatan mengembangkan diabetes menjadi dua kali untuk setiap peningkatan berat badan sebesar 20% dari berat badan yang diinginkan.
Mengenai umur, data menunjukan bahwa untuk setiap dekade setelah umur 40 tahun tidak perduli berat badannya ada suatu peningkatan kejadian diabetes. Kelaziman (prevalence) dari diabetes pada orang-orang berumur 65 sampai 74 tahun adalah hampir 20%. Diabetis tipe 2 juga adalah lebih umum pada kelompok-kelompok etnik tertentu. Dibandingkan dengan suatu kelaziman sebesar 6% pada orang-orang kulit putih (Caucasians), kelaziman pada orang-orang Amerika keturunan Afrika dan Asia diperkirakan adalah 10%, pada orang-orang Hispanics 15%, dan pada komunitas-komunitas pribumi Amerika tertentu 20% sampai 50%. Akhirnya, kencing manis terjadi jauh lebih sering pada wanita-wanita dengan sejarah diabetes sebelumnya yang berkembang selama kehamilan (gestational diabetes).
Kencing manis dapat terjadi sementara selama kehamilan. Perubahan-perubahan hormon yang signifikan selama kehamilan dapat menjurus pada penigkatan gula darah pada individu-individu yang dipengaruhi secara genetik. Peningkatan gula darah selama kehamilan disebut gestational diabetes. Gestational diabetes umumnya menghilang setelah bayi dilahirkan. Bagaimanapun, 25-50% dari wanita-wanita dengan gestational diabetes akan akhirnya dalam hidupnya mengembangkan diaetes tipe 2, terutama pada yang memerlukan insulin selama kehamilan dan yang tetap kegemukan setelah melahirkan. Pasien-pasien dengan gestational diabetes umumnya diminta menjalani suatu tes toleransi gula secara oral kira-kira 6 minggu setelah melahirkan untuk menentukan apakah diabetisnya tetap berlangsung sesudah kehamilan, atau apakah adanya kehadiran bukti apa saja (seperti toleransi glukosa yang terganggu) yang dapt menjadi petunjuk pada risiko masa depan pasien untuk mengembangkan kencing manis.
Diabetis sekunder (secondary diabetes) merujuk pada peningkatan tingkat-tingkat gula darah dari kodisi medis lainnya. Diabetis sekunder dapat berkembang ketika jaringan pankreas bertanggung jawab pada produksi insulin dirusak oleh penyakit, seperti pankreatitis kronis (peradangan dari pankreas disebabkan oleh racun-racun sepeti alkohol yang berlebihan), luka (trauma), atau operasi pembuangan pankreas. Diabetes dapat juga berasal dari gangguan-gangguan hormon lainnya, seperti produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan (acromegaly) dan Cushing's syndrome. Pada acromegaly, suatu tumor kelenjar pituitari (pituitary gland tumor) pada dasar otak menyebabkan produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan, menjurus pada hyperglycemia. Pada Cushing's syndrome, kelenjar-kelenjar adrenal (adrenal glands) memproduksi suatu cortisol yang berlebihan, yang mempromosikan peningkatan gula darah.
Sebagai tambahan, obat-obat tertentu dapat memperburuk kontrol diabetis, atau "membuka kedok" ("unmask") diabetis yang tersembunyi. Ini terlihat paling umum ketika obat-obat steroid (seperti prednisone) diminum dan juga dengan obat-obat yang digunakan pada perawatan infeksi HIV (AIDS).
Pada penyakit-penyakit autoimun, seperti diabetis tipe 1, sistim imun secara keliru membuat antibodi-antibodi dan sel-sel peradangan yang diarahkan melawan dan menyebabkan kerusakan pada jaringan-jaringan tubuh pasien sendiri. Pada pasien dengan diabetis tipe 1, sel-sel beta dari pankreas yang bertanggung jawab pada produksi insulin, diserang oleh sistim imun yang salah diarahkan. Dipercayai bahwa kecenderungan mengembangkan antibodi-antibodi abnormal pada diabetis tipe 1 adalah sebagian diwariskan secara genetik, walaupun detil-detilnya tidak sepenuhnya dimengerti. Ekspose pada infeksi-infeksi virus tertentu (virus-virus mumps dan Coxsackie) atau racun-racun lingkungan lainnya dapat menyajikan untuk memicu respon-respon antibodi yang abnormal yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel pankreas dimana insulin dibuat. Antibodi-antibodi ini dapat diukur pada mayoritas pasien-pasien, dan mungkin dapat membantu menentukan individu-individu yang mana saja berada pada risiko mengembangkan diabetis tipe 1.
Pada saat ini, American Diabetes Association tidak merekomendasikan penyaringan secara umum populasi untuk diabetis tipe 1, meskipun penyaringan dari individu-individu yang berisiko tinggi, seperti yang dengan suatu family generasi pertama (suadara kandung atau orang tua) dengan diabetis tipe 1 seharusnya dianjurkan. Diabetis tipe 1 cenderung terjadi pada individu-individu yang muda dan kurus, umumnya sebelum berumur 30 tahun, bagaimanapun, pasien-pasien yang lebih tua kadangkala juga menunjukan bentuk diabetis ini. Sub-sub kelompok ini dirujuk sebagai diabetis autoimun tersembunyi pada orang dewasa [latent autoimmun disease in adults (LADA)]. LADA adalah suatu bentuk yang lambat dan progresif dari diabetis tipe 1. Dari semua pasien-pasien diabetis, hanya kurang lebih 10% dari pasien-pasien mempunyai diabetis tipe 1 dan sisanya 90% mempunyai diabetis tipe 2.
Diabetis tipe 2 juga dirujuk sebagai diabetes mellitus yang tidak tergantung insulin [non-insulin dependent diabetes mellitus (NIDDM)], atau diabetes mellitus yang menyerang orang dewasa [adult onset diabetes mellitus (AODM)]. Pada diabetis tipe 2, pasien-pasien tetap masih dapat memproduksi insulin, namun relatif tidak memcukupi untuk kebutuhan-kebutuhan tubuhnya, terutama menghadapi resisten insulin seperti yang didiskusikan diatas. Pada banyak kasus-kasus, ini sesungguhnya berarti pankreas memproduksi jumlah insulin yang lebih besar dari normalnya. Suatu sifat utama dari diabetis tipe 2 adalah suatu kekurangan kepekaan sel-sel tubuh pada insulin (terutama sel-sel lemak dan otot). Sebagai tambahan pada persoalan dengan suatu peningkatan resistensi insulin, pelepasan insulin oleh pankreas dapat juga rusak dan suboptimal. Kenyataannya, ada suatu penurunan yang tetap dan diketahui pada produksi insulin dari sel-sel beta pada diabetis tipe 2 yang berkontribusi pada pemburukkan pengontrolan glukosa. (Ini adalah suatu faktor utama untuk banyak pasien-pasien dengan diabetis tipe 2 yang pada akhirnya memerlukan terapi insulin). Akhirnya, hati pada pasien-pasien ini terus berlanjut memproduksi glukosa melalui suatu proses yang disebut gluconeogenesis meskipun dengan tingkat-tingkat glukosa yang tinggi. Kontrol dari gluconeogenesis menjadi bersepakat.
Ketika dinyatakan bahwa diabetis tipe 2 kebanyakan terjadi pada individu-individu lebih dari umur 30 tahun dan timbulnya meningkat dengan umur, kita melihat suatu angka yang mengkhwatirkan dari pasien-paseien dengan diabetis tipe 2 yang belum mencapai umur 10 tahun. Faktanya, untuk pertama kali dalam sejarah kemanusiaan, diabetis tipe 2 sekarang lebih umum dari pada diabetis tipe 1 pada masa kanak-kanak. Kebanyakan dari kasus-kasus ini adalah suatu akibat langsung dari kebiasaan makan yang buruk, berat badan yang lebih berat, dan kurangnya berolahraga.
Ketika ada suatu komponen genetik yang kuat untuk mengembangkan bentuk diabetis ini, ada faktor-faktor risiko lainnya - yang paling signifikan darinya adalah kegemukan (obesity). Ada suatu hubungan langsung antara derajat kegemukan dan risiko pengembangan diabetes tipe 2 , dan ini benar baik pada anak-anak maupun orang-orang dewasa. Diperkirakan bahwa kesempatan mengembangkan diabetes menjadi dua kali untuk setiap peningkatan berat badan sebesar 20% dari berat badan yang diinginkan.
Mengenai umur, data menunjukan bahwa untuk setiap dekade setelah umur 40 tahun tidak perduli berat badannya ada suatu peningkatan kejadian diabetes. Kelaziman (prevalence) dari diabetes pada orang-orang berumur 65 sampai 74 tahun adalah hampir 20%. Diabetis tipe 2 juga adalah lebih umum pada kelompok-kelompok etnik tertentu. Dibandingkan dengan suatu kelaziman sebesar 6% pada orang-orang kulit putih (Caucasians), kelaziman pada orang-orang Amerika keturunan Afrika dan Asia diperkirakan adalah 10%, pada orang-orang Hispanics 15%, dan pada komunitas-komunitas pribumi Amerika tertentu 20% sampai 50%. Akhirnya, kencing manis terjadi jauh lebih sering pada wanita-wanita dengan sejarah diabetes sebelumnya yang berkembang selama kehamilan (gestational diabetes).
Kencing manis dapat terjadi sementara selama kehamilan. Perubahan-perubahan hormon yang signifikan selama kehamilan dapat menjurus pada penigkatan gula darah pada individu-individu yang dipengaruhi secara genetik. Peningkatan gula darah selama kehamilan disebut gestational diabetes. Gestational diabetes umumnya menghilang setelah bayi dilahirkan. Bagaimanapun, 25-50% dari wanita-wanita dengan gestational diabetes akan akhirnya dalam hidupnya mengembangkan diaetes tipe 2, terutama pada yang memerlukan insulin selama kehamilan dan yang tetap kegemukan setelah melahirkan. Pasien-pasien dengan gestational diabetes umumnya diminta menjalani suatu tes toleransi gula secara oral kira-kira 6 minggu setelah melahirkan untuk menentukan apakah diabetisnya tetap berlangsung sesudah kehamilan, atau apakah adanya kehadiran bukti apa saja (seperti toleransi glukosa yang terganggu) yang dapt menjadi petunjuk pada risiko masa depan pasien untuk mengembangkan kencing manis.
Diabetis sekunder (secondary diabetes) merujuk pada peningkatan tingkat-tingkat gula darah dari kodisi medis lainnya. Diabetis sekunder dapat berkembang ketika jaringan pankreas bertanggung jawab pada produksi insulin dirusak oleh penyakit, seperti pankreatitis kronis (peradangan dari pankreas disebabkan oleh racun-racun sepeti alkohol yang berlebihan), luka (trauma), atau operasi pembuangan pankreas. Diabetes dapat juga berasal dari gangguan-gangguan hormon lainnya, seperti produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan (acromegaly) dan Cushing's syndrome. Pada acromegaly, suatu tumor kelenjar pituitari (pituitary gland tumor) pada dasar otak menyebabkan produksi hormon pertumbuhan yang berlebihan, menjurus pada hyperglycemia. Pada Cushing's syndrome, kelenjar-kelenjar adrenal (adrenal glands) memproduksi suatu cortisol yang berlebihan, yang mempromosikan peningkatan gula darah.
Sebagai tambahan, obat-obat tertentu dapat memperburuk kontrol diabetis, atau "membuka kedok" ("unmask") diabetis yang tersembunyi. Ini terlihat paling umum ketika obat-obat steroid (seperti prednisone) diminum dan juga dengan obat-obat yang digunakan pada perawatan infeksi HIV (AIDS).
Penyebab Diabetes
Produksi yang tidak mencukupi dari insulin (baik secara absolut atau relatif pada kebutuhan tubuh), produksi dari insulin yang rusak (yang adalah tidak umum), atau ketidakmampuan sel-sel untuk menggunakan insulin dengan baik dan secara efisien menjurus pada hyperglycemia dan diabetis. Kondisi terakhir ini kebanyakan mempengaruhi sel-sel otot dan jaringan-jaringan lemak, dan berakibat pada suatu kondisi yang dikenal dengan "resistensi insulin" ("insulin resistance"). Ini adalah persoalan utama pada diabetis tipe 2. Kekurangan absolut dari insulin, umumnya sekunder terhadap suatu proses merusak yang mempengaruhi sel-sel beta didalam pankreas yang menghasilkan insulin, adalah kelainan utama pada diabetis tipe 1. Pada diabetis tipe 2, disana juga ada suatu kemunduran yang tetap dari sel-sel beta yang menambah pada proses peningkatan gula darah. Secara mendasar, jika seseorang resiten terhadap insulin, tubuh dapat pada beberapa tingkat meningkatkan produksi insulin dan mengatasi tingkat resistensi ini. Sesudahnya , jika produksi berkurang dan insulin tidak dapat dilepas secara vigoros, hyperglycemia akan berkembang.
Glukosa adala suatu gula sederhana yang ditemukan di makanan. Glukosa adalah suatu nutrisi yang penting yang menyediakan energi supaya sel-sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. Karbohidrat diurai didalam usus kecil dan glukosa didalam makanan yang telah dicerna kemudian diserap oleh sel-sel usus kedalam aliran darah, dan dibawa oleh aliran darah keseluruh sel-sel tubuh dimana ia digunakan. Bagaimanapun, glukosa tidak dapat sendiri masuk kedalam sel-sel dan memerlukan bantuan insulin untuk membantu pengangkutannya kedalam sel-sel. Tanpa insulin, sel-sel menjadi kelaparan energi glukosa meskipun tersedianya glukosa yang berlimpah-limpah didalam aliran darah. Pada tipe-tipe diabetis tertentu, ketidakmampuan sel-sel untuk menggunakan glukosa memberikan reaksi pada situasi yang ironis dari "kelaparan ditengah kelimpahan". Glukosa yang berlimpah dan tidak digunakan dikeluarkan dengan borosnya didalam urin.
Insulin adalah suatu hormon yang diproduksi oleh sel-sel khusus (sel-sel beta) dari pankreas. Pancreas adalah suatu organ didalam perut yang berlokasi dibelakang lambung. Selain membantu glukosa masuk kedalam sel-sel, insulin juga penting dalam pengaturan tingkat glukosa yang ketat didalam darah. Setelah makan, tingkat glukosa darah naik. Sebagai jawaban atas peningkatan tingkat glukosa, normalnya pankreas melepaskan lebih banyak insulin kedalam aliran darah untuk membantu glukosa masuk ke sel-sel dan menurunkan tingkat-tingkat glukosa setelah makan. Ketika tingkat-tingkat glukosa darah menurun, pelepasan insulin dari pankreas dikurangi. Sangat penting untuk dicatat bahwa bahkan pada waktu keadaan puasa ada suatu pelepasan insulin sedikit yang tetap yang berfluktuasi sedikit dan membantu memelihara suatu tingkat gula darah yang tetap selama puasa. Pada individu-individu normal, sistim pengaturan yang seperti ini membantu mempertahankan tingkat-tingkat glukosa darah dalam suatu batasan yang terkontrol secara ketat. Seperti diuraikan diatas, pada pasien-pasien kencing manis, insulinnya baik tidak hadir, relatif tidak mencukupi untuk keperluan tubuh, atau tidak digunakan dengan baik oleh tubuh. Semua faktor-faktor ini menyebabkan peningkatan tingkat-tingkat glukosa darah (hyperglycemia).
Glukosa adala suatu gula sederhana yang ditemukan di makanan. Glukosa adalah suatu nutrisi yang penting yang menyediakan energi supaya sel-sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. Karbohidrat diurai didalam usus kecil dan glukosa didalam makanan yang telah dicerna kemudian diserap oleh sel-sel usus kedalam aliran darah, dan dibawa oleh aliran darah keseluruh sel-sel tubuh dimana ia digunakan. Bagaimanapun, glukosa tidak dapat sendiri masuk kedalam sel-sel dan memerlukan bantuan insulin untuk membantu pengangkutannya kedalam sel-sel. Tanpa insulin, sel-sel menjadi kelaparan energi glukosa meskipun tersedianya glukosa yang berlimpah-limpah didalam aliran darah. Pada tipe-tipe diabetis tertentu, ketidakmampuan sel-sel untuk menggunakan glukosa memberikan reaksi pada situasi yang ironis dari "kelaparan ditengah kelimpahan". Glukosa yang berlimpah dan tidak digunakan dikeluarkan dengan borosnya didalam urin.
Insulin adalah suatu hormon yang diproduksi oleh sel-sel khusus (sel-sel beta) dari pankreas. Pancreas adalah suatu organ didalam perut yang berlokasi dibelakang lambung. Selain membantu glukosa masuk kedalam sel-sel, insulin juga penting dalam pengaturan tingkat glukosa yang ketat didalam darah. Setelah makan, tingkat glukosa darah naik. Sebagai jawaban atas peningkatan tingkat glukosa, normalnya pankreas melepaskan lebih banyak insulin kedalam aliran darah untuk membantu glukosa masuk ke sel-sel dan menurunkan tingkat-tingkat glukosa setelah makan. Ketika tingkat-tingkat glukosa darah menurun, pelepasan insulin dari pankreas dikurangi. Sangat penting untuk dicatat bahwa bahkan pada waktu keadaan puasa ada suatu pelepasan insulin sedikit yang tetap yang berfluktuasi sedikit dan membantu memelihara suatu tingkat gula darah yang tetap selama puasa. Pada individu-individu normal, sistim pengaturan yang seperti ini membantu mempertahankan tingkat-tingkat glukosa darah dalam suatu batasan yang terkontrol secara ketat. Seperti diuraikan diatas, pada pasien-pasien kencing manis, insulinnya baik tidak hadir, relatif tidak mencukupi untuk keperluan tubuh, atau tidak digunakan dengan baik oleh tubuh. Semua faktor-faktor ini menyebabkan peningkatan tingkat-tingkat glukosa darah (hyperglycemia).
Rabu, 04 Mei 2011
Diabetes Atau kencing Manis
Definisi Kencing Manis
Kencing manis atau diabetis adalah suatu grup dari penyakit metabolisme dikarakteristikan oleh tingkat-tingkat gula darah (glukosa) yang tinggi, yang berakibat dari kerusakan-kerusakan pada pengeluaran insulin, atau kerja insulin, atau kedua-duanya. Kencing manis , umumnya dirujuk sebagai diabetis pertama kali diidentifikasikan sebagai suatu penyakit yang berhubungan dengan "air seni manis" ("sweet urine"), dan kehilangan otot yang berlebihan pada dunia kuno. Peningkatan tingkat-tingkat gula darah (hyperglycemia) menjurus pada kebocoran glukosa kedalam urin, karena itu istilahnya kencing manis. Secara normal, tingkat-tingkat gula darah dikontrol secara ketat oleh insulin, suatu hormon yang dihasilkan oleh pankreas. Insulin menurunkan tingkat gula darah. Ketika gula darah naik (contohnya, setelah makan makanan), insulin dilepas dari pankreas untuk menormalkan tingkat gula. Pada pasien-pasie dengan kencing manis/diabetis, tidak kehadiran atau produksi yang tidak mencukupi dari insulin menyebabkan hyperglycemia. Diabetis adalah suatu kondisi medis kronis, yang berarti bahwa walaupun itu dapat dikontrol, dia berlangsung seumur hidup.
Dampak Kencing Manis
Dengan berjalannya waktu, diabetis dapat menjurus pada kebutaan, gagal ginjal, dan kerusakan syaraf. Tipe-tipe kerusakan ini adalah akibat kerusakan dari pembuluh-pembuluh kecil, dirujuk sebagai penyakit mikrovaskuler (microvascular disease). Diabetis juga adalah suatu faktor penting dalam mempercepat pengerasan dan penyempitan dari arteri-arteri (atherosclerosis), menjurus pada strokes, penyakit jantung koroner, dan penyakit-penyakit pembuluh darah besar lainnya. Ini dirujuk sebagai penyakit makrovaskuler (macrovascular disease). Diabetis mempengaruhi hampir 17 juta orang (kira-kira 8% dari populasi) di Amerika. Sebagai tambahan, suatu tambahan yang diperkirakan dari 12 juta orang di Amerika mempunyai diabetis dan bahkan tidak mengetahuinya. Dari suatu perspektif ekonomi, biaya total per tahun dari diabetis pada tahun 1997 diestimasikan sebesar 98 milyar dolar di Amerika. Biaya per kapita berasal dari pada tahun 1997 berjumlah $10,071.00; sedangkan biaya-biaya kesehatan untuk orang-orang tanpa diabetis sebesar $2,699.00 per kapita. Selama tahun yang sama ini, 13.9 juta hari opname di rumah sakit dihubungkan pada diabetis, dimana 30.3 juta kunjungan ke dokter berhubungan dengan diabetis. Ingat, angka-angka ini merefleksikan hanya populasi di Amerika . Seluruh dunia, statistiknya mengejutkan.
Diabetis adalah penyebab utama kematian yang ketiga di Amerika setelah penyakit jantung dan kanker.
Kencing manis atau diabetis adalah suatu grup dari penyakit metabolisme dikarakteristikan oleh tingkat-tingkat gula darah (glukosa) yang tinggi, yang berakibat dari kerusakan-kerusakan pada pengeluaran insulin, atau kerja insulin, atau kedua-duanya. Kencing manis , umumnya dirujuk sebagai diabetis pertama kali diidentifikasikan sebagai suatu penyakit yang berhubungan dengan "air seni manis" ("sweet urine"), dan kehilangan otot yang berlebihan pada dunia kuno. Peningkatan tingkat-tingkat gula darah (hyperglycemia) menjurus pada kebocoran glukosa kedalam urin, karena itu istilahnya kencing manis. Secara normal, tingkat-tingkat gula darah dikontrol secara ketat oleh insulin, suatu hormon yang dihasilkan oleh pankreas. Insulin menurunkan tingkat gula darah. Ketika gula darah naik (contohnya, setelah makan makanan), insulin dilepas dari pankreas untuk menormalkan tingkat gula. Pada pasien-pasie dengan kencing manis/diabetis, tidak kehadiran atau produksi yang tidak mencukupi dari insulin menyebabkan hyperglycemia. Diabetis adalah suatu kondisi medis kronis, yang berarti bahwa walaupun itu dapat dikontrol, dia berlangsung seumur hidup.
Dampak Kencing Manis
Dengan berjalannya waktu, diabetis dapat menjurus pada kebutaan, gagal ginjal, dan kerusakan syaraf. Tipe-tipe kerusakan ini adalah akibat kerusakan dari pembuluh-pembuluh kecil, dirujuk sebagai penyakit mikrovaskuler (microvascular disease). Diabetis juga adalah suatu faktor penting dalam mempercepat pengerasan dan penyempitan dari arteri-arteri (atherosclerosis), menjurus pada strokes, penyakit jantung koroner, dan penyakit-penyakit pembuluh darah besar lainnya. Ini dirujuk sebagai penyakit makrovaskuler (macrovascular disease). Diabetis mempengaruhi hampir 17 juta orang (kira-kira 8% dari populasi) di Amerika. Sebagai tambahan, suatu tambahan yang diperkirakan dari 12 juta orang di Amerika mempunyai diabetis dan bahkan tidak mengetahuinya. Dari suatu perspektif ekonomi, biaya total per tahun dari diabetis pada tahun 1997 diestimasikan sebesar 98 milyar dolar di Amerika. Biaya per kapita berasal dari pada tahun 1997 berjumlah $10,071.00; sedangkan biaya-biaya kesehatan untuk orang-orang tanpa diabetis sebesar $2,699.00 per kapita. Selama tahun yang sama ini, 13.9 juta hari opname di rumah sakit dihubungkan pada diabetis, dimana 30.3 juta kunjungan ke dokter berhubungan dengan diabetis. Ingat, angka-angka ini merefleksikan hanya populasi di Amerika . Seluruh dunia, statistiknya mengejutkan.
Diabetis adalah penyebab utama kematian yang ketiga di Amerika setelah penyakit jantung dan kanker.
Selasa, 03 Mei 2011
Medulla, bagian lain dari kelenjar adrenal, beroperasi sebagai suatu organ endokrin yang berbeda, menghasilkan dua hormon-hormon, adrenaline dan noradrenaline, yang mempunyai efek-efek yang tersebar luas dan cepat diseluruh tubuh. Hormon-hormon ini mencapai efek-efek mereka dengan meningkatkan aliran darah keseluruh organ-organ yang akan diperlukan untuk menghadapi suatu ancaman yang potensial terhadap orang yang bersangkutan. Aliran ke jantung dan otot-otot kerangka meningkat dengan suatu pengurangan pada kulit dan usus yang bersifat kompensasi. Tekanan darah dan denyut nadi meningkat, dan tubuh dilempar kedalam suatu keadaan siap siaga. Mengiringi aksi-aksi ini adalah pelebaran bronchiol-bronchiol paru-paru, dan peningkatan tingkat-tingkat bahan bakar - glukosa dan asam lemak - dalam darah. Perubahan-perubahan ini adalah persiapan-persiapan untuk apa yang kita sebut "lawan atau lari".
Hormon adrenaline juga bertindak sebagai suatu pemancar kimia pada banyak ujung-ujung syaraf, karena medulla adrenal berkembang dari jaringan yang sama didalam fetus yang memberi perkembangan pada sistim syaraf simpatetik.
Pankreas
Didalam daerah perut (abdomen) ada suatu kelenjar yang besar, pankreas, yang bagian terbesarnya adalah exocrine dan yang dalam fungsinya bertautan dengan pencernaan, namun didalam mana satu persennya yang sangat penting terdiri dari sekitar satu juta rumpun sel-sel yang disebut pulau-pulau yang sangat kecil Langerhans. Pulau-pulau ini memproduksi dua hormon-hormon utama yang mengontrol penanganan dari bahan-bahan bakar glukosa dan asam lemak didalam tubuh. Setelah makan ketika glukosa darah meningkat, ia secara langsung menyebabkan pelepasan insulin dari sel-sel beta dari pulau-pulai ini. Insulin mengurangi produksi glukosa didalam hati dan mendorong pengambilan dan pemakaiannya oleh jaringan-jaringan. Serupa dengannya, ia mengurangi pelepasan dari asam-asam lemak dan gliserol dari jaringan adipose. Produksi insulin yang tidak memadai oleh pulau-pulau dalam responnya terhadap glukosa menjurus pada kenaikkan tingkat-tingkat glukosa darah dan pada penampilan dari glukosa didalam urin, karena tabung-tabung ginjal tidak mampu untuk menyerap secara penuh jumlah glukosa yang meningkat yang disaring. Ini adalah gangguan-gangguan dari produksi hormon yang terjadi pada diabetes mellitus. Hormon pankreas lainnya, glukagon, dari sel-sel alfa dari pulau-pulau, mempunyai efek-efek yang berlawanan dengan insulin dalam hati, dan meningkatkan produksi glukosa.
Kontrol bahan-bahan bakar didalam tubuh kemudian adalah suatu keseimbangan dari aksi-aksi kedua hormon-hormon ini, dan dari hormon-hormon adrenaline, noradrenaline, growth hormone, cortisol dan hormon-hormon tiroid. Ini mengizinkan suatu penyedian bahan-bahan bakar yang terkontrol dan tetap pada semua sel-sel untuk metabolisme dan pertumbuhan pada semua keadaan-keadaan.
Hormon adrenaline juga bertindak sebagai suatu pemancar kimia pada banyak ujung-ujung syaraf, karena medulla adrenal berkembang dari jaringan yang sama didalam fetus yang memberi perkembangan pada sistim syaraf simpatetik.
Pankreas
Didalam daerah perut (abdomen) ada suatu kelenjar yang besar, pankreas, yang bagian terbesarnya adalah exocrine dan yang dalam fungsinya bertautan dengan pencernaan, namun didalam mana satu persennya yang sangat penting terdiri dari sekitar satu juta rumpun sel-sel yang disebut pulau-pulau yang sangat kecil Langerhans. Pulau-pulau ini memproduksi dua hormon-hormon utama yang mengontrol penanganan dari bahan-bahan bakar glukosa dan asam lemak didalam tubuh. Setelah makan ketika glukosa darah meningkat, ia secara langsung menyebabkan pelepasan insulin dari sel-sel beta dari pulau-pulai ini. Insulin mengurangi produksi glukosa didalam hati dan mendorong pengambilan dan pemakaiannya oleh jaringan-jaringan. Serupa dengannya, ia mengurangi pelepasan dari asam-asam lemak dan gliserol dari jaringan adipose. Produksi insulin yang tidak memadai oleh pulau-pulau dalam responnya terhadap glukosa menjurus pada kenaikkan tingkat-tingkat glukosa darah dan pada penampilan dari glukosa didalam urin, karena tabung-tabung ginjal tidak mampu untuk menyerap secara penuh jumlah glukosa yang meningkat yang disaring. Ini adalah gangguan-gangguan dari produksi hormon yang terjadi pada diabetes mellitus. Hormon pankreas lainnya, glukagon, dari sel-sel alfa dari pulau-pulau, mempunyai efek-efek yang berlawanan dengan insulin dalam hati, dan meningkatkan produksi glukosa.
Kontrol bahan-bahan bakar didalam tubuh kemudian adalah suatu keseimbangan dari aksi-aksi kedua hormon-hormon ini, dan dari hormon-hormon adrenaline, noradrenaline, growth hormone, cortisol dan hormon-hormon tiroid. Ini mengizinkan suatu penyedian bahan-bahan bakar yang terkontrol dan tetap pada semua sel-sel untuk metabolisme dan pertumbuhan pada semua keadaan-keadaan.
Langganan:
Postingan (Atom)